JEMBER - Uji coba pendaratan pesawat yang akan menerbangi Surabaya - Jember PP, kemarin (13/8) berlangsung mulus di Bandara Notohadinegoro. Meskipun cuaca mendung, pesawat LET 410 milik maskapai Tri MG itu berhasil mendarat pukul 10.45.
Inilah penerbangan komersial perdana (the first commercial flight) di bandara yang berlokasi di Desa Wirowongso, Kecamatan Ajung tersebut. Sebelumnya memang sudah ada beberapa pesawat yang mendarat di sana, namun sifatnya hanya uji coba, bukan benar-benar penerbangan yang akan dikomersialkan seperti pesawat LET 410 kemarin.
Pesawat dengan kapasitas 18 seat itu take off dari Bandara Juanda sekitar pukul 10.15. Pesawat berwarna putih polos itu membawa 15 orang penumpang. Di antaranya Wakil Kepala Dinas Perhubungan (Wakadishub) Jatim Jogy Hendryadi, Kadishub Jember Sunarsono, tim evaluasi Dishub Jatim dan pejabat Tri MG.
Untuk menyambut pendaratan proving flight (uji coba) ini, persiapan di bandara sudah dilaksanakan sejak pekan lalu. Kesibukan makin terlihat sejak Senin lalu. Sejumlah petugas melakukan penyempurnaan marka run way (landasan pacu). Beberapa kelengkapan di gedung bandara juga dibenahi.
Bahkan, H - 1 lalu, staf dishub yang akan bertugas di bandara mendapat arahan dari Wakijan, konsultan Tri MG dari Aero Express International. Petugas juga melakukan simulasi atau gladi bersih pelayanan bandara, mulai dari pemesanan tiket, pemeriksaan barang, boarding pass, dan sebagainya.
Sejak pagi kemarin, para petugas sudah stand by di bandara. Para petugas sudah berada di posisinya masing-masing. Misalnya, petugas di air traffic control (ATC), petugas pemadam kebakaran, mobil penjemput, dan sebagainya.
Sekitar pukul 09.57, Kadishub Sunarsono sempat mengontak koran ini. Dia mengabarkan bahwa pesawat sekitar lima menit lagi akan take off. Sekitar pukul 10.30, petugas ATC sudah bisa melakukan kontak dengan pilot Tri MG. “Pesawat kira-kira kurang 35 mil lagi,” ujar petugas ATC, pukul 10.40.
Tak berselang lama, sekitar pukul 10.46 pesawat sudah terlihat melakukan over head (jalan memutar) di sekitar bandara. Pesawat terlihat di sebelah utara gedung bandara, berjalan dari timur ke barat. Kira-kira segaris dengan run way, pesawat belok ke arah selatan.
Pukul 10.48, roda pesawat menyentuh run way. Pesawat buatan Ceko itu mendarat di sisi utara run way. Sedangkan belasan petugas stand by di sekitar taxi way (jalan penghubung antara run way dengan apron). Sedangkan petugas pemadam kebakaran telah siap di mobilnya untuk mengantisipasi segala sesuatunya.
Laju pesawat makin melambat saat mendekati sekitar taxi way. Sekitar 50 m di selatan taxi way, pesawat berhenti. Lalu putar balik kanan menuju taxi way. Setelah masuk taxi way, pesawat putar balik kanan menghadap run way.
Setelah mesin pesawat mati, pintu di sisi kiri pesawat dibuka. Setelah pintu dibuka, awak kabin pesawat memasang tangga kecil. Yang turun kali pertama adalah Sunarsono. Dia langsung melambaikan tangan sembari tersenyum ke arah petugas dan wartawan yang menanti di taxi way. “Sip, sip! Enak, enak!” ujarnya sembari mengacungkan kedua jempol tangannya.
Selanjutnya semua penumpang turun. Mereka langsung naik ke beberapa mobil yang telah disiapkan menuju gedung bandara. “Alhamdulillah, selama penerbangan dari Surabaya tidak ada masalah,” ujar Wahyudi Kurniawan, pilot Tri MG.
Selama penerbangan, dia mengakui, kondisi cuaca berawan. Sebab itu, dia menerbangkan pesawat produksi 1989 itu di ketinggian 9.500 feet (atau sekitar 17 ribu km dari permukaan laut). “Sebab, di kanan kiri sini banyak gunung. Jadi kami agak tinggi,” ungkapnya.
Selain itu, sebelum landing di Bandara Notohadinegoro, pihaknya sempat melakukan over head. Itu dilakukan untuk mempelajari situasi di sekitar bandara dan kondisi run way. “Karena pengamatan kami visual. Jadi kami tentukan dulu check point-nya. Ternyata flat (datar) dan clearance (bersih),” terangnya.
Menurut dia, untuk memudahkan pendaratan pesawat, masih ada sejumlah sarana yang mestinya dilengkapi. “Sinyal NDB (sinyal bandara yang ditangkap pesawat) tadi baru dinyalakan beberapa mil sebelum landing. Power-nya juga lemah. Jadi kami tadi masih mengandalkan map (peta) dan GPS (global positioning system),” tandasnya.
Proving flight itu dilaksanakan juga untuk mengetahui kondisi rute Surabaya - Jember dan bandara. Tetapi, secara umum, kondisi Bandara Jember mendapat pujian dari Wakadishub Jatim Jogy Hendryadi. “Dari kondisi beberapa bandara di Jatim, seperti Banyuwangi, Sumenep, dan Bawean, Jember ini paling bagus dan siap,” pujinya.
Menurut dia, program penerbangan pesawat sipil Surabaya - Jember merupakan bagian dari sistem transportasi terpadu antara Dishub Jatim dengan dishub kabupaten/kota yang memiliki bandara. “Dulu kita sebut city link,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, pemprov mengembangkan program tersebut untuk menghubungkan sejumlah kota di Jatim menggunakan transportasi udara. Yang diproyeksikan adalah Jember, Banyuwangi, Sumenep, dan Bawean. Selain bandara Jember, bandara yang lain diperkirakan paling cepat beroperasi tahun depan.
Soal kapan sejumlah kota itu terhubung dengan angkutan udara, Jogy tidak bisa memastikan. Semua tergantung kelayakan yang ditentukan Dephub. Sebab, untuk mengoperasikan sejumlah bandara itu, tiga hal pokok harus terpenuhi.
Di darat, sarana fisik bandara harus siap. Di udara, harus ada maskapai yang bersedia membuka rute. Dan ketiga kesiapan sumber daya manusia (SDM). “Dan Jember termasuk yang paling siap,” tandasnya.
Jogy menyebutkan, sejatinya ada satu kota lagi yang layak memiliki bandara, yakni Pacitan. Kota di ujung barat bagian selatan Jatim itu memiliki medan geografis yang cukup berat. “Dari aspek kebutuhan, layak memiliki bandara. Tapi apakah ada maskapai yang mau ke sana? Sebab, ini juga bicara bisnis,” tukasnya.
Yang jelas, pihaknya tidak membebaskan setiap kabupaten/kota di Jatim untuk membangun bandara. “Tapi seperti Bawean, itu inisiatif pemprov. Sebab, banyak warga Bawean yang bekerja di Singapura atau Malaysia,” tutur pria berkaca mata ini.
Soal kapan penerbangan komersial pertama dibuka, Kadishub Sunarsono belum bisa memastikan. Dia menyebutkan, setelah proving flight, Dishub Jatim segera membuat laporan ke Ditjen Perhubungan Udara Dephub. “Setelah dinyatakan layak, langsung beroperasi. Pada dasarnya Jember sudah siap,” tegasnya.
Setelah transit di bandara, rombongan dari Surabaya itu rehat siang di luar kompleks bandara. Sekitar pukul 13.00, rombongan kembali ke bandara. Selanjutnya, sejumlah pihak sempat melakukan pertemuan tertutup di salah satu ruangan di gedung bandara. Pertemuan itu diikuti oleh Jogy, Sunarsono, tim evaluasi dishub, pihak maskapai Tri MG, serta konsultan Aero Express International.
Distrik Manajer Tri MG Lukman Hakim menjelaskan, untuk awal, setiap hari ada tiga hingga empat kali penerbangan dari Jember - Surabaya PP. “Jika ternyata sambutan pasar bagus, kami akan kembangkan rute Surabaya - Jember - Denpasar,” ungkapnya.
Untuk membuka rute Surabaya - Jember, Pemkab Jember melakukan kontrak dengan Tri MG selama tiga bulan. Setiap bulan, pemkab mengontrak pesawat tersebut selama 90 jam penerbangan. (har)
Sumber : Radar Jember